Rabu, 10 Agustus 2016

TERSAKITI

Diunyu..

Harap palsu menjelma tiada tara
rasa yang tumbuh masih berbentuk benih
pecah bak raga yang tak lagi bersatu
aku dengan sejuta rahasia

Memendam sepi sendiri
tanpa lamun yang mereda
ku benci dalam sunyi yang pasti
lambaikan tangan dengan sejuta rasa

  akhir rasa...

bukan karna tak menuai
hanya biru yang nampak
kurasa kosong mulai menjelma
terpatri lara tiada tara


aku yang masih sendiri
 cukup alami yang tak pasti
kucoba sembunyi 
di penantian tanpa batas .

Teruntuk kamu yang masih menjadi bui
kusampaikan rasa dalam sebongkah asa..





-Teti Sukma-
Masih disini di pandeglang kita </3


Pandeglang, 10 Agustus 2016

Minggu, 31 Juli 2016

Aku yang mulai mencintaimu


    Kamu adalah apa yang selalu menjadi anganku
Rasa sepi, sendiri dan benci seperti menyatu dengan nestapa
Bukan kelam yang menyelimuti rindu
Tapi ketakutan akan hilangnya harapmu

Mencintaimu..

Bagiku raga mulai menyatu dengan harap yang tak pasti
Ini rindu, rindu yang tak sampai pada kata “bertemu”
Hanya luka biru yang tergores dalam sentuhan kalbu
Tombak asa kini menusuk jantungku.

Masih disini di tempat yang sama
Dengan rasa baru tanpa kata tanpa makna
Masih dengan kesendirian yang takpasti.

Aku yang mulai mencintaimu
Berlabuh di pelabuhan yang gersang
Tanpa rasa tanpa asa

Masih di sini di penantian tanpa ujung…


Teti sukma
Pandeglang, 31 juli 2016.




Jumat, 10 Juni 2016

RINDU ^^


Manisku…

Ketika rasa dan asa mulai bertemu
Nahkoda rindu kini berlabuh
Dan mulai duduk di penghujung 20 ku..

Sanubari mulai merayu di ufuk senja
Bukan kematian benar menusuk kalbu
Tapi rindu yang takkunjung bertemu
Bersandar pada tali warna pelangi..

Sastraku masih sastra lama
Dengan cerita sang laki berbingkai kaca
Namun tak lagi nama yang sama..

Kini rindu masih menjelma…
Akankah tanpa tau dengan kata
Tapi dengan doa yang terus teriring dalam sujud.

Ini rasaku rasa yang baru tanpa sastra biru
Masih berpegang pada angin.
Kusamapaikan salam sapa rasa yang tumbuh .
Teruntuk sang laki di ujung samudra yang masih berlayar.


Teti Sukma,

SERANG,10 Juni 2016


Senin, 07 Maret 2016

Bersemi

Ketika tunas itu tumbuh
Tiada daya yang menghalangi
Perlahan kokoh bagai pepohon
Bersama angin ia menjulang

Bersemi..

Rasa yang dulu telah tercecer
Kini mulai mencari puing-puing baru
Akankah rasa harus menolak
Sedang ia semankin tumbuh

Baru…

Merpati dalam sarang memberi tanda
Cintaku cinta yang baru
Tak lagi dengan biru dalam samudra
Tapi jingga dalam elegi

Salam sapa doa setiap pristiwa
biar kasturi yang mewangikannya
dalam cerah mentari
segalanya bermula dihati


Kini kau bagian dari sastraku
Tintanya kan ku tulis namamu..

Teti sukma

untukmu yang masih menjadi doa-ku.
Serang,03-07-2016



Sabtu, 05 Maret 2016

LUKA-ku

Tapak tilas jejakmu masih Nampak

Deru rasa menggebu dalam nadi

Merantau jauh sang hati di laut biru

Bisakah nirwana kembali ?


      Tikamkan pisau hingga ke hulu

      Diam, hanya berlari ke ujung asa

      Kau memberi rasa dalam palsu belaka

            Ah, rancu..


Masih ingat sajak ku ?

Tintanya masih bertulis namamu

Sang satya berlensa kaca.

    Cukup lelah
    
    Cukup letih

    Cukup sepi

    Cukup sampai ku menanti…..


                      Masih dengan harapan kosong.
                                 -Teti Sukma-
                             di Serang, 03-05-2016.


Senin, 23 November 2015

Bersua dengan bintang

Rayu sukmaku dengan lantang

biar ribuan angin menyapa senja

tetap kau dalam jiwaku

Semayam nyata tanpa kata

   Tombak lara bergelayut merana mesra

   aku dengan sepi bernyanyi sunyi

   bertanya dengan bintang 
   
   serahkan hati yang kau beri belati

Kasihmu tak seperti kasih-Nya

Takpernah pudar walau diterpa karang

dan walau tertembak bumerang

         Amboi ~

     Sampai salamku pudar

     kan ku bopong sebongkah rasa yang lalu

    yang kini terlupa oleh kau sang penyayat rasa...


                Masih dengan kegalauan

                      -Teti Sukma-
                       
                          Di Serang




  

Sabtu, 03 Oktober 2015

Sepenggal luka

Terenyuh...

Hati yang kokoh bak karang dilaut biru
kini takberdaya meronta putus asa
rasa yang tertinggal masih bersemayam
belum hilang di telan sang masa 

Ku gantung celorteh mu dalam lara
kau yang dulu tetap sama
hanya hati yang kini berbeda
kau dan dia..

Menggores luka mendalam di sekujur nadi
aku yang dulu masih dengan puzzle yang sama
hanya kepingannya yang kini telah berbeda
lukaku luka mendalam..

Lalu...

Bisakah kau kembali ?
kembali dengan bintang yang sama
dengan ku bukan dengannya
selubungku masih sama
selubung pelindung saat sepimu

Kini sapaku kembali padamu
sang satya berlensa kaca di laut biru.


-Teruntuk engkau sang satya di ujung bumi pertiwi-
       Serang,03 oktober 2015
             Teti Sukma